GOD DOESN'T EXIST FOR ME, I EXIST FOR THE LORD ---- Lukas 17 : 7 - 10

Author : Pdt. Dr. Erastus Sabdono | Fri, 30 November 2012 - 12:27 | View : 590
jesus-savior-and-king.jpg

Pada tingkat kedewasaan tertentu kita akan memiliki pengakuan demikian : " Allah ada bukan untukku, tetapi aku ada untuk Tuhan ". Sampai pada pengakuan ini manusia mengenal dirinya dengan benar. Bila belum, manusia masih berkategori sebagai " tidak tahu diri ". Ternyata lebih banyak orang Kristen yang kekanak-kanakan sehingga dalam hubungannya dengan Tuhan bersikap seperti anak-anak kecil terhadap orang tuanya. Ia memandang orang tua ada untuk anak. Karenanya kita temukan banyak anak-anak yang tahunya hanya menuntut orang tua untuk melakukan apa saja yang anak itu inginkan. Prinsip ini harus kita pahami dan kita belajar untuk mengenakannya : " God doesn't exist for me, I exist for The Lord ". Pada saat kita sampai pada pengakuan ini, kita berhasil menempatkan diri sebagai hamba bagi Tuhan untuk dimiliki-Nya. Selanjutnya Tuhan Yesus menjadi Tuan dan Majikan kita. Inilah sebenarnyha tujuan ke-Kristen-an itu.

Secara tidak langsung dalam perikop bacaan kita, Tuhan Yesus menggambarkan 2 tokoh atau oknum. Pertama, Tuan yang dilayani dan kedua, hamba yang melayani. Tuan tersebut tentu yang dimaksud adalah Tuhan sendiri dan hamba adalah kita. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan.

  1. Kedudukan hamba tersebut tidak sama dengan Tuan (ayat 7-8).
    Tuan adalah majikan yang terhormat dan hamba adalah pelayan yang bekerja keras untuk tuannya. Hamba tidak dapat makan bersama dengan Tuannya. Kita harus benar-benar menghayati kedudukan kita dihadapan Tuhan. Bahwa IA adalah yang Mahatinggi dan Mulia, dan kita manusia berdosa yang rendah. Hanya oleh anugerah-Nya kita diperkenan menjadi anak-Nya. Setelah kita menjadi anak Tuhan, kita harus tetap dalam kesadaran bahwa IA adalah Allah yang tidak dapat disejajarkan dengan siapapun dan apapun. Perhatikan ucapan Yohanes terhadap Yesus: " membuka tali kasutNya pun aku tidak layak. " (Yohanes 1 : 26-27).
  2. Hamba bekerja bagi Tuannya. Dalam perikop Lukas 17 : 7-8, terkesan atau diisyaratkan bahwa hamba tersebut bekerja sekeras-kerasnya, sementara Tuannya memperlakukan hamba tersebut semau-maunya. Hamba tersebut pulang dari ladang, masih harus menyediakan makanan bagi tuannya. Tetapi hamba tesebut tidak boleh dan tidak bisa membantah. Perlakuan seperti itu dianggap wajar. Adakah kita memiliki sikap seperti itu? Rela diperlakukan Tuhan apa saja demi kepentingan dan keuntungan-NYa. Bukan sebaliknya mengatur Tuhan dan memperlakukan Tuhan semau-maunya demi keinginan dan hasrat kita sendiri. Adalah indah kalau kita menjadi seperti kuda atau lembu yang jinak yang diperalat Tuhan sesuka-suka-Nya. Justru inilah kehidupan yang sukses dimata Allah. Dalam Perjanjian Lama kita menemukan hamba-hamba Tuhan yang rela melakukan apa saja yang Tuhan perintahkan. Yeremia disuruh memikul gandar, beban atau kuk pada tengkuknya sebagai nubuatan (Yeremia 28). Yesaya disuruh telanjang badan dan kaki sebagai cara bernubuat bagi bangsa Israel (Yesaya 20). Ketaatan semacam itu jug dimiliki oleh Hosea, ketika ia diperintahkan mengambil perempuan sundal sebagai isterinya. Betapa indahnya hidup ini kalau kita bisa berkata : " Perlakukan aku apa saja Tuhan demi kemuliaan nama-MU ".
  3. Tuan tidak perlu berterima kasih (ayat 9-10). Mengapa Tuhan Yesus mengajarkan demikian. Sebab Tuhan hendak memberitahukan kepada kita bahwa kita adalah milik-Nya. Ia memiliki segenap hidup kita. Kita adalah milik-Nya. Tuhan sepenuhnya berhak atas kita tanpa syarat. Karena itu kita harus takluk tanpa syarat kepada-Nya. Kalau kita mentaati Firman-Nya dan melayani Tuhan, itu bukan karena kita mau diberkati atau mencari upah. Tetapi karena kita memang dimiliki-Nya dan harus berbuat demikian. Penaklukan diri seperti ini membawa diri kita ke isatana-Nya. Sebab Tuhan tidak mengijinkan orang masuk kerajaan-Nya untuk menempati tahta-Nya, tetapi sujud menjadi hamba-Nya, melayani Tuhan dalam kekekalan. Solagracia.

_COMMENTS


Arsip : • 2017201520132012