Hidup Dalam Kasih Karunia

Author : Pdt Dr Erastus Sabdono | Sat, 5 August 2017 - 15:25 | View : 49
Tags : Karly
Saudaraku, Apa yang membuat kita dapat dikatakan hidup dalam kasih karunia atau anugerah? Bukan karena kita memperoleh berkat lahiriah lebih berlimpah dibanding dengan orang di luar Kristen. Malah kenyataannya, banyak orang non-Kristen yang lebih berlimpah harta kekayaannya, lebih terhormat dalam kedudukan, pangkat, kekuasaan dan berbagai bidang lainnya. Kita disebut hidup dalam kasih karunia bukan pula karena kita pasti memiliki perlindungan lebih dari mereka yang ada di luar orang Kristen. Kenyataannya, kehidupan kita dengan mereka yang ada di luar orang Kristen terkesan sama. Memang demikian kenyataannya, sebab tidak sedikit orang Kristen yang tidak layak menerima perlindungan Tuhan. Mereka tidak layak menerima perlindungan Tuhan sebab tidak hidup di dalam rencana serta kehendak Allah. Hukum tabur tuai berlaku bagi semua orang. Kalau orang tidak bekerja keras, tidak jujur, maka hidupnya susah. Kalau seseorang tidak menjaga pola hidup dan pola makan yang baik, maka pasti ia sakit. Orang yang ceroboh dalam berkendara, cenderung mengalami kecelakaan dan lain sebagainya. Saudaraku, Kita dapat dikatakan hidup dalam kasih karunia sebab kita dipilih untuk menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah berarti menjadi makhluk manusia yang dapat melakukan kehendak Bapa atau memiliki kehidupan yang berkenan di hadapan Allah, secara ideal sesuai dengan standar yang dikehendaki oleh Allah. Untuk ini Allah memberi kuasa kepada orang percaya supaya menjadi anak-anak Allah, artinya disanggupkan untuk dapat melakukan kehendak Allah atau berkenan kepada Tuhan. Kuasa yang disediakan oleh Tuhan adalah Roh Kudus, Injil, dan penggarapan Allah telah tersedia secara limpah tidak terbatas. Selain itu, Tuhan memberi Diri untuk dikenal dan dijumpai untuk berinteraksi sebagai Guru yang membimbing kita kepada kesempurnaan melalui Roh Kudus. Semua itu sangat berpotensi untuk dapat membuat kita berkenan kepada Allah dan melakukan kehendak Bapa. Saudaraku, Dalam hal ini kita memperoleh gambaran yang jelas betapa mengerikan dampak Teologi Kemakmuran itu. Pada umumnya mereka hanya fokus kepada pemenuhan kebutuhan jasmani serta bagaimana menjalani hidup ini tanpa masalah yang dapat mengganggu apa yang mereka rasakan sebagai ketenangan. Berbicara mengenai kasih karunia, yang dipahami mereka bahwa mereka sudah pasti masuk surga, sementara hidup di dunia ini diberkati dengan segala berkat jasmani dan memperoleh perlindungan Tuhan secara khusus. Kasih karunia menjadi murahan. Para penganut ajaran hypergrace melandaskan hidupnya di atas pemahaman ini. Terdapat gereja-gereja yang menyatakan anti hypergrace, padahal dalam praktiknya mereka mengenakan ajaran tersebut. Hal ini mengakibatkan mereka tidak mengerti maksud kasih karunia keselamatan diberikan. Saudaraku, Mereka tidak berusaha untuk berkenan kepada Allah dan tidak berjuang untuk dapat melakukan kehendak Bapa. Biasanya mereka berpikir bahwa mereka sudah memiliki keadaan yang berkenan di hadapan Allah karena Tuhan Yesus yang menggantikan posisi mereka. Padahal Alkitab tidak pernah mengatakan demikian. Alkitab mengatakan bahwa Yesus memikul dosa kita, artinya Ia menanggung hukuman akibat dari dosa yang kita (dan semua manusia) lakukan. Semua hutang dosa kita dibayar, tetapi bukan berarti kita boleh berhutang lagi. Alkitab menunjukkan bahwa kita berhutang bukan untuk hidup dalam daging atau berbuat dosa terus menerus, tetapi hidup menurut roh, artinya hidup berkenan kepada Allah atau melakukan kehendak Bapa. Adapun setelah menerima pengampunan dosa, orang percaya harus berusaha berkenan kepada Allah. Saudaraku, Ternyata untuk dapat melakukan kehendak Bapa atau hidup berkenan kepada Allah, seseorang harus benar-benar melepaskan segala sesuatu. Seperti Tuhan Yesus mengosongkan Diri, demikian pula kita harus melakukan hal yang sama. Mengosongkan diri di sini artinya bersedia untuk melepaskan semua yang kita anggap sebagai hak. Dengan demikian orang percaya harus bersedia melepaskan semua haknya. Ini adalah konsekuensi penebusan dan untuk dapat hidup dalam kasih karunia. Dengan demikian kasih karunia dari Tuhan membuat orang percaya harus melepaskan hidupnya. Dari saudaramu dalam Tuhan QUOTE: Orang percaya harus bersedia melepaskan semua haknya, karena ini adalah konsekuensi penebusan dan untuk dapat hidup dalam kasih karunia.

_COMMENTS


Arsip : • 2017201520132012