Menjadi Sekutu Tuhan

Author : Pdt Dr Erastus Sabdono | Sun, 10 September 2017 - 09:09 | View : 45
Tags : Karly
Saudaraku, Matahari kita ialah bintang yang ukurannya demikian besar, sehingga dibutuhkan 1.300.000.000 planet seukuran Bumi untuk mengisinya. Tetapi itu tidak ada artinya dibanding bintang terbesar yang diketahui manusia saat ini, yaitu VY Canis Majoris di rasi Canis Major, yang berjarak 4.900 tahun cahaya dari bumi. Bintang raksasa ini berdiameter sekitar 2000 kali matahari, dan untuk mengisi volumenya dibutuhkan 7 kuadriliun (7.000.000.000.000.000) planet seukuran Bumi. Ketika Yohanes memperoleh penglihatan dari Tuhan Yesus di Pulau Patmos, ia melihat Tuhan Yesus memegang tujuh bintang (Why. 1:16). Memang bintang yang dimaksud di dalam ayat ini bukan berarti fisik, tetapi sebagai Pencipta bukan tidak mungkin secara fisikpun Sang Logos sanggup melakukannya. Jadi jika kita sudah terkagum-kagum memperhatikan ukuran bintang-bintang di alam semesta ini, betapa tidak berartinya itu semua dibandingkan Tuhan kita. Betapa dahsyatnya Tuhan Semesta Alam itu: kuasa-Nya, hikmat-Nya, jalan-jalan-Nya, dan pekerjaan tangan-Nya. Betapa tidak berartinya segala sesuatu yang kita anggap berharga (keluarga, harta, pangkat, kehormatan, dan lain sebagainya) di hadapan-Nya. Lebih mengagumkan lagi, Tuhan yang Mahadahsyat itu berkenan menjadikan kita sekutu-Nya. Tetapi Ia menginginkan kita melepaskan segala sesuatu, agar kita bisa mempersembahkan hidup kita bagi Dia. Dengan menghayati kedahsyatan Tuhan dan betapa besar kasih-Nya, serta betapa tidak berartinya segala sesuatu yang kita lepaskan bagi-Nya, maka kita akan menyadari bahwa mempersembahkan segenap hidup kita juga sesungguhnya tidak cukup untuk membalas kasih-Nya. Karena kita tidak mempunyai apa-apa yang dapat diperhitungkan sebagai sesuatu yang bisa berguna bagi-Nya. Hanya oleh anugerah-Nyalah Ia bisa melengkapi kita dengan segala sesuatu yang berguna bagi Kerajaan-Nya. Dengan kesadaran ini maka sanjungan, puji-pujian dan kehormatan dari manusia tidak lagi kita perhitungkan sama sekali. Saudaraku, Dalam hal ini, sikap hati kitalah yang berperan, apakah kita memiliki kesediaan untuk menjadi sekutu Tuhan? Tuhan tidak mencari keuntungan apa pun dari kita, tetapi Tuhan ingin menemukan hati yang mengasihi Dia dan rela berbuat apa pun demi kepentingan-Nya. Jika hati seseorang mengasihi Dia, maka ia pasti tampil sebagai pembela-Nya. Jangan sia-siakan kesempatan yang sangat berharga ini untuk menjadi sekutu Tuhan Semesta Alam Yang Mahatinggi. Untuk menjadi sekutu Tuhan, ada harga yang harus dibayar. Abaraham, salah satu contoh dari seorang yang berani membayar harga menjadi sekutu Tuhan. Sehingga ia disebut sebagai sahabat Tuhan. Tindakan iman Abraham adalah tindakan yang menyita seluruh kehidupannya. Hidupnya benar-benar berubah sejak ia meresponi panggilan untuk keluar dari Ur-kasdim. Hidupnya menjadi sangat berbeda dengan lingkungannya. Ia menjadi orang asing, bagi keluarganya sendiri, saudaranya bahkan masyarakat di mana ia pernah menetap. Abraham adalah sosok yang memiliki keberanian yang sangat hebat untuk menjadi sekutu Tuhan. Inilah iman yang sejati itu. Saudaraku, Iman yang sejati akan membuat seseorang berubah secara radikal. Kalau seluruh kehidupan belum dipertaruhkan atau disita oleh imannya, maka imannya belum sempurna. Iman kita harus mengacu pada iman Abraham. Iman Abraham adalah model iman yang harus kita miliki agar menjadi sekutu Tuhan. Kalau Abraham harus melepaskan seluruh kehidupannya untuk menjadi sekutu Tuhan, maka kita pun harus melakukan hal yang sama. Kalau seseorang tidak melepaskan seluruh aspek kehidupannya, berarti ia tidak mengerti betapa besar anugerah yang Tuhan berikan untuk menjadi sekutu-Nya. Melepaskan kehidupan inilah yang dimaksud Tuhan Yesus sebagai rela kehilangan nyawa. Dari saudaramu di dalam Tuhan, Erastus

_COMMENTS


Arsip : • 2017201520132012