Pembelaan Yang Benar

Author : Pdt Dr Erastus Sabdono | Sun, 15 October 2017 - 08:54 | View : 27
Tags : Karly
Saudaraku, Kita sering merasa sudah di pihak Tuhan dan juga merasa telah membela pekerjaan-Nya serta telah berprestasi dalam pelayanan. Tetapi kita tidak mempersoalkan secara langsung dengan Tuhan, apakah Tuhan merasa bahwa kita telah sungguh-sungguh membela Dia dan apakah Tuhan memandang bahwa kita telah berprestasi di hadapan-Nya? Tanpa memperkarakannya secara langsung di hadapan Tuhan, kita bisa salah menilai diri sendiri. Ini berarti kesesatan yang membahayakan keselamatan kekal kita. Mari kita belajar dari penghakiman terakhir yang akan digelar oleh Tuhan Yesus. Digambarkan kelompok domba adalah kelompok orang yang berkenan kepada Tuhan pada hari penghakiman, karena kelompok domba telah melayani Tuhan tepat seperti apa yang Tuhan kehendaki, yaitu menolong sesama manusia; memberi makan kepada yang lapar, memberi pakaian kepada yang telanjang, memberi tumpangangan bagi yang membutuhkannya, menjenguk dan menghibur yang sakit, dan lain sebagainya. Uniknya kelompok domba tidak merasa melakukan semua ini, karena kelompok domba menyadari segala sesuatu yang mereka lakukan adalah irama jiwa di dalam diri mereka, karena itu kelompok domba tidak merasa istimewa. Tetapi semua itu sangat berarti dan diperhitungkan oleh Tuhan Yesus sebagai hal yang berkenan. Kelompok yang lain adalah mereka yang merasa sudah berbuat sesuatu bagi Tuhan. Mereka juga memberi makan yang lapar, memberi minum yang haus, mendoakan orang sakit, memberi tumpangan bagi yang membutuhkan, menjadi konselor di gereja, menjadi aktivis gereja bahkan pendeta, membayar persepuluhan, dan melakukan banyak hal dalam kegiatan gerejani. Namun mereka bisa tidak berkenan di hati Tuhan, mengapa demikian? Hal ini karena mereka melakukan semua itu dengan motif-motif yang salah. Mereka mencari pujian atau paling tidak hanya karena mau eksis di tengah-tengah aktivitas gerejani. Tidak sedikit dari mereka yang menjadikan kegiatan tersebut sebagai komoditas mencari keuntungan bagi diri sendiri. Paling tidak, mereka dapat memperoleh pujian dan sanjungan. Tuhan mengatakan bahwa sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya selama di bumi. Jadi, di kekekalan mereka tidak menerima apa-apa lagi. Saudaraku, Kelompok kedua ini bukanlah mengenai orang non-Kristen, tetapi orang-orang Kristen yang tidak memiliki irama jiwa mengasihi sesama. Padahal seharusnya dengan kodrat Ilahi yang ditumbuh kembangkan dalam dirinya, orang percaya bisa memiliki pikiran dan perasaan Tuhan, sehingga segala sesuatu yang dilakukan ada dalam kasih Allah yang agung dan mulia. Banyak orang Kristen yang kejam terhadap sesamanya, meliciki sesamanya, menindas sesamanya dan lain sebagainya. Tetapi mereka tidak merasa terancam menghadapi pengadilan Tuhan. Karena mereka merasa sudah diselamatkan. Ditambah lagi dengan prinsip keselamatan bukan karena perbuatan baik, maka mereka merasa pasti diterima Tuhan di surga. Padahal mereka salah memahami pengertian kalimat tersebut. Saudaraku, Pengadilan Tuhan berlaku adil kepada semua orang. Maka orang Kristen yang merasa bahwa dirinya adalah anak Allah dan memanggil Allah sebagai Bapa, bukan jaminan bahwa dirinya pasti diterima oleh Bapa. Firman Tuhan mengatakan, kalau kita memanggil Allah sebagai Bapa, hendaknya kita hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia, sebab Allah tidak memandang muka. Ini berarti Bapa memperhatikan apakah kelakuan orang sesuai dengan keinginan-Nya atau tidak. Jika tidak, maka mereka akan binasa. Dalam hal ini banyak orang Kristen yang bukan saja tidak mengembangkan kodrat Ilahi di dalam hidupnya, tetapi juga bahkan tidak memiliki naluri sebagai manusia yang berbelas kasihan terhadap sesama. Betapa celakanya! Mereka pasti binasa. Oleh sebab itu, jujurlah memeriksa diri sendiri.

_COMMENTS


Arsip : • 2017201520132012