Isi Dan Makna Hidup Ini

Author : Pdt Dr Erastus Sabdono | Tue, 14 November 2017 - 07:01 | View : 10
Tags : Karly
Menantang zaman harus dengan tindakan nyata, yaitu membangun kehidupan yang hanya di dasarkan pada menyembah dan berbakti kepada Allah saja, seperti yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 4:8, Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti. Dewasa ini, hampir tidak ada manusia yang secara konsekuen dan konsisten mengenakan kebenaran ini. Di dalam pernyataan Tuhan Yesus tersebut, kita dapat menemukan isi dan makna hidup satu-satunya yang harus dikenakan dalam hidup orang percaya. Kalau seseorang tidak memberi isi dan makna seperti yang tertuang dalam ucapan Tuhan Yesus, maka hidupnya tidak berarti sama sekali. Kehidupan yang tidak berarti ini adalah jalan manusia menuju kebinasaan abadi. Allah tidak melestarikan kehidupan semacam ini dalam Kerajaan-Nya. Tetapi faktanya hari ini, hampir semua manusia di zaman ini tidak mengenakan kebenaran tersebut. Hampir semua manusia tidak menyembah dan berbakti kepada Allah dengan benar. Walaupun mereka beragama, tetapi mereka tidak ber-Tuhan. Di dalamnya termasuk banyak orang Kristen. Dengan demikian akan semakin banyak orang masuk ke dalam kegelapan. Kata menyembah dalam Lukas 4:8 adalah proskuneseis, dari akar kata proskuneo. Kata ini dalam arti sempit bermakna tunduk, tetapi dalam arti luas adalah memberi nilai tinggi. Menyembah Allah sebenarnya bukan hanya mengenai syair lagu dan nada, tetapi menunjuk sikap batin yang menghargai Allah setiap saat dalam segala hal. Terhadap Tuhan kita harus tunduk dan hormat melebihi terhadap siapa pun. Adapun kata berbakti dalam Lukas 4:8 adalah latreuseis. Kata ini lebih tepat diterjemahkan: melayani atau to serve. Kata ini berakar dari kata latreuo, yang juga digunakan Paulus dalam Roma 12:1-2, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan ibadah yang sejati. Ini berarti seluruh daya dan kekuatan yang ada harus dipersembahkan untuk mengabdi kepada Tuhan; bagi kepentingan Kerajaan-Nya. Perlu kita memperhatikan kalimat: hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti. Ini adalah kalimat penting yang harus digarisbawahi. Tuhan Yesus menyatakan bahwa Allah harus menjadi satu-satunya objek pelayanan dan pengabdian kita. Hanya kepada Dia sajalah mengisyaratkan bahwa kita harus menyembah dan berbakti hanya kepada Allah saja. Kita tidak boleh kompromi atau menyesuaikan diri dengan cara hidup manusia di sekitar kita yang memang tidak mengenal Allah yang benar, mereka tidak menyembah dan berbakti kepada Allah. Kalau kelihatannya ada orang-orang Kristen pergi bergereja, tetapi mereka sebenarnya memiliki dua tuan, yaitu Tuhan dan perut mereka sendiri, maka hal ini tidak boleh terjadi dalam kehidupan orang percaya. Karena sesuai dengan yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, bahwa seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24). Sekarang kita harus memastikan kepada siapa kita berbakti. Kalimat Hanya kepada Dia hendak menegaskan bahwa objek penyembahan dan kebaktian kita hanya satu, yaitu Tuhan. Hal ini akan menghindarkan kita dari sikap disorientasi; sikap yang tidak berfokus kepada Tuhan. Fokus hidup kita harus benar dan jelas, orientasi kita haruslah Tuhan, Kerajaan, dan kebenaran-Nya. Hidup kita harus menjadi suatu kehidupan yang dibaktikan kepada Tuhan sepenuhnya. Segala sesuatu yang kita miliki dan kita lakukan harus hanya demi kepentingan-Nya. Kalau kita hanya ke gereja, itu belum berarti sudah berbakti kepada Tuhan. Kebaktian kita kepada Tuhan terbukti dalam hidup setiap hari, bukan hanya pada aktivitas ke gereja setiap minggu. Istilah kebaktian yang kita kenakan untuk liturgi gereja hari Minggu sebenarnya tidak tepat. Apa yang kita sebut sebagai kebaktian pada acara liturgi gereja sebenarnya barulah sebagian dari kebaktian kepada Tuhan. Seperti Yesus tegas menolak bujukan untuk menyembah dan berbakti kepada Iblis, dengan mengesampingkan perkara-perkara dunia ini, maka kita juga harus bersikap demikian. Kehidupan Tuhan Yesus merupakan teladan yang harus kita ikuti. Hanya kalau kita sungguh-sungguh bersikap seperti Yesus, maka kita dapat menjadi manusia rohani. Dengan demikian kita akan dibuat semakin memahami kebenaran-kebenaran Allah. Dengan demikian kedewasaan kita juga akan bertumbuh cepat dan normal. Di tengah-tengah suasana dunia yang materialistis ini, di mana manusia menyembah Iblis, kita harus tetap berpegang teguh kepada kebenaran Allah. Kita harus dengan konsekuen dan konsisten mengenakan kebenaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, yaitu menyembah Allah dan hanya kepada Dia saja kita berbakti. Walau hal ini akan dianggap tidak wajar di mata manusia, tetapi kita harus tetap teguh pada kebenaran ini tanpa kompromi. Hal ini merupakan bentuk perlawanan kita kepada zaman ini. Zaman yang tidak menghormati Allah secara patut.

_COMMENTS


Arsip : • 2017201620152012