Satu-satunya Kebahagiaan

Author : Pdt Dr Erastus Sabdono | Fri, 17 November 2017 - 06:26 | View : 13
Tags : Karly
Di zaman ini, manusia sudah terbiasa membangun kebahagiaannya oleh kekuatan materi atau kekayaan dunia. Filosofi ini telah meracuni juga banyak orang Kristen dan para rohaniwan. Kita semua juga pernah menjadi korban dari filosofi yang sesat tersebut. Akibat dari filosofi tersebut belumlah tuntas dalam kehidupan kita hari ini. Tanpa kita sadari, cara berpikir kita masih sering terpengaruhi oleh filosofi yang salah tersebut. Kalau kita tidak berjuang sungguh-sungguh untuk mengenakan cara berpikir yang baru, yaitu pikiran dan perasaan Kristus, maka cara berpikir yang sesat tersebut bisa menggagalkan proses menuju kesempurnaan atau menjadi serupa dengan Yesus. Biasanya orang memahami kebahagiaan sebagai perasaan senang, sukacita karena keadaan nyaman, tidak ada ancaman, atau karena keinginannya dipuaskan, serta cita-citanya tercapai. Inilah pengertian kebahagiaan yang dipahami oleh hampir semua manusia. Sebenarnya, kebahagiaan tergantung dari cara seseorang memandang hidup. Kalau cara pandang hidup sudah salah, menganggap yang dapat membahagiakan hatinya adalah sesuatu yang menjadi target, maka ia akan diperbudak oleh sesuatu yang menjadi target tersebut. Kebahagiaan seseorang menjadi sangat relatif, artinya tergantung persepsi seseorang mengenai apa kebahagiaan itu dan cita rasa jiwa yang biasa dialami atau dinikmati setiap hari. Melalui berbagai sarana (baik yang didengar, dilihat, dan dialami) atau pengalaman hidup, filosofi manusia terbentuk dalam memandang apa yang dapat membahagiakannya. Zaman ini mengkondisikan manusia untuk memiliki kebahagiaan yang ditopang dan ditentukan oleh materi kekayaan dunia dengan segala hiburannya. Tidak dapat dibantah, di dunia yang materialistis ini, pikiran manusia diarahkan untuk mengakui bahwa uanglah sumber kebahagiaan. Dunia juga mengkondisikan manusia untuk merasakan betapa hebat kekuatan uang dan nyata dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi hampir semua orang. Dengan demikian, banyak orang diarahkan untuk menjadikan uang sebagai kebahagiaannya. Seseorang yang sumber kebahagiaannya adalah uang akan menjadikan uang sebagai tujuan hidup. Ia akan berpikir bahwa semakin banyak uang yang dimiliki, maka ia merasa semakin memiliki kebahagiaan. Cara berpikir ini juga telah meracuni pikiran banyak orang Kristen, sehingga mereka juga tertawan oleh filosofi tersebut. Kalau seorang Kristen mengandalkan kekayaan dunia dan segala hiburannya sebagai kebahagiaannya, maka ia tidak pernah bisa berurusan dengan Tuhan secara benar. Mereka adalah orang-orang yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya. Tentu saja mereka tidak dapat diubah oleh Tuhan. Ini berarti keselamatan tidak pernah terwujud dalam kehidupan mereka. Sesungguhnya, inilah yang diupayakan oleh kuasa kegelapan agar keselamatan tidak pernah terwujud dalam kehidupan umat pilihan. Dalam hal ini Iblis bisa menyusup dalam gereja, melalui mimbar-mimbarnya mengajarkan teologi kemakmuran yang mengarahkan manusia kepada filosofi bahwa Tuhan bukan satu-satunya kebahagiaan hidup. Dengan demikian, jemaat terparkir di dunia sehingga tidak mengalami keselamatan yang disediakan oleh Tuhan Yesus. Mereka terseret oleh zaman ini sehingga tidak pernah dapat menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaannya. Mereka tidak pernah mengalami damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus bagi orang percaya. Orang Kristen yang tidak menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaannya tidak pernah menjadi mempelai Kristus (2Kor. 11:2-3). Ini berarti mereka menjadi orang yang tidak setia kepada Tuhan. Di mata Tuhan, mereka dinilai sebagai orang-orang yang bersahabat dengan dunia ini. Padahal persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah. Dengan tidak menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan, maka seseorang bukan saja gagal menikmati damai sejahtera Tuhan, tetapi juga membinasakan dirinya. Orang-orang Kristen seperti ini, sudah pasti gagal untuk mencapai keadaan berkodrat Ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Dalam hal ini dapat ditemukan suatu kebenaran, bahwa kalau seseorang menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan, maka tidak mungkin ia bisa hidup ceroboh atau hidup dalam dosa. Orang yang menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan akan terpacu untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Sebagai umat pilihan yang telah dicelikkan mengenal kebenaran, kita harus berani berprinsip dengan teguh bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya kebahagiaan kita. Untuk ini kita harus berusaha mengubah selera jiwa kita. Kalau sebelumnya kesukaan kita adalah barang-barang dunia dan segala hiburannya, sekarang kita harus mulai mengarahkan diri kepada Tuhan sebagai kebahagiaan kita satu-satunya. Kita harus dengan sengaja meninggalkan kesenangan dunia ini, dan mulai memberi waktu untuk belajar dengan tekun kebenaran Firman Tuhan dan menyediakan diri bertemu dengan Tuhan dalam doa pribadi. Dengan cara ini sebenarnya kita sedang menantang zaman.

_COMMENTS


Arsip : • 2017201620152012