Rumah Yang Sesungguhnya

Author : Pdt Dr Erastus Sabdono | Mon, 20 November 2017 - 09:20 | View : 15
Tags : Karly
Banyak orang Kristen yang tidak mampu menghayati bahwa dunia ini bukan rumah mereka. Tuhan menyatakan berulang kali bahwa kita bukan berasal dari dunia ini. Paulus pun menyatakan bahwa kewarganegaraan kita bukan di bumi. Dengan kesadaran ini, mestinya apa yang dipandang sebagai kebutuhan primer hanya satu, yaitu Tuhan saja. Tetapi faktanya, tidak sedikit orang Kristen yang berusaha keras bagaimana memiliki rumah pribadi sebesar-besarnya dan semewah-mewahnya. Mereka berpikir bahwa kesempatan memiliki rumah hanya sekali di bumi ini. Gaya hidup di atas sudah menetap lama dalam jiwa banyak orang Kristen. Tentu saja mereka memandang kematian berarti hilangnya kesempatan memiliki kenyamanan untuk menikmati kehidupan ini, termasuk kesempatan memiliki dan menikmati sebuah rumah. Bagi mereka rumah atau tempat tinggal adalah kenikmatan satu-satunya dalam kehidupan yang tidak pernah terulang. Rumah memang kebutuhan primer menurut pikiran dan konsep manusia pada umumnya, tetapi rumah harus diadakan demi memenuhi kebutuhan keluarga guna mengabdi kepada Tuhan, bukan untuk citra diri, harga diri, dan kehormatan. Sebagian besar orang Kristen memiliki cara berpikir yang salah tersebut, dan bergaya hidup seperti orang-orang di luar Kristen yang tidak memiliki janji bahwa Tuhan Yesus akan membawa kita ke rumah Bapa. Dengan gaya hidup yang salah tersebut, mereka merasa telah memiliki hidup yang wajar. Mereka merasa tidak berdosa, sebab hal itu dipandang tidak menyalahi Firman Tuhan. Ini adalah kesalahan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad, di mana orang Kristen hidup dalam kewajaran anak-anak dunia dan mereka merasa tidak bersalah. Sementara itu pula, tidak ada yang menegur atau mengingatkan mereka dengan keras. Dengan menyatakan hal ini, bukan berarti mereka yang memiliki rumah mewah berkeadaan berdosa. Kita harus cerdas dan jujur serta berhati-hati menyikapi hal ini. Dalam hal ini, dituntut kejujuran untuk mengoreksi diri sendiri atau sebuah proses internalisasi (penghayatan). Harus dipahami bahwa kemewahan sebenarnya juga relatif, artinya dari sudut mana seseorang memandang. Bagi sekelompok orang tertentu, rumah seharga beberapa puluh milyar bukan jumlah yang besar, tetapi bagi kelompok yang lain rumah seharga beberapa puluh atau beberapa ratus juta sudah cukup. Dalam hal ini yang penting adalah bagaimana setiap orang dapat mengelola milik Tuhan yang dipercayakan kepadanya, tidak menggunakan untuk kesenangan diri sendiri dan kehormatannya. Tetapi menggunakannya bagi kepentingan Kerajaan Surga. Hal ini hanya bisa dimengerti dan diterima oleh mereka yang memahami arti penebusan. Kalau Tuhan telah menebus kita dan kita menerima penebusan-Nya, berarti kita menyerahkan seluruh milik dan hak kita kepada Tuhan. Hal ini hanya dapat dipahami oleh mereka yang mengerti kebenaran, dan yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati. Tuhan mengajarkan bagaimana diri-Nya tidak memiliki kenyamanan seperti kenyamanan yang dimiliki manusia lain. Ia memberi pernyataan bahwa diri-Nya tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, bahkan Ia mati di kayu salib dalam kemiskinan jasmani yang ekstrem. Setengah telanjang Ia tergantung di antara langit dan bumi dengan keadaan berdarah-darah. Kalau seseorang mengikut Tuhan Yesus, maka harus juga mengikuti jejak-Nya. Dengan pernyataan Tuhan Yesus tersebut (bahwa diri-Nya tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya), dimaksudkan agar orang percaya mengikuti jejak-Nya, yaitu tidak mengharapkan hidup dalam kenyamanan di bumi. Orang percaya tidak boleh memfokuskan diri pada kehidupan sekarang di bumi, tetapi memfokuskan diri pada kehidupan yang akan datang. Orang percaya harus memiliki hidup dalam penantian yang kuat untuk dipindahkan ke rumah yang sesungguhnya di langit baru dan bumi yang baru. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi kita. Kalau Ia sudah menyediakan tempat bagi kita, maka Ia akan datang untuk menjemput kita, supaya di mana Ia berada kita juga berada. Kehidupan orang percaya yang benar adalah hidup dalam penantian yang penuh kerinduan terhadap penjemputan-Nya. Hal ini juga berarti kita lebih memfokuskan diri pada rumah abadi kita, bukan rumah sementara di bumi ini. Kalau tidak demikian berarti pengkhianatan atau ketidaksetiaan kepada Tuhan Yesus. Bagaimana bisa dikatakan setia, kalau Tuhan Yesus sendiri mengingini di mana diri-Nya ada orang percaya juga berada, tetapi ada yang tidak bersedia merindukan bersama-sama dengan Dia? Kita harus melewati hari ini dengan berprinsip bahwa kehidupan di bumi yang sementara ini hanya persiapan untuk memperoleh rumah atau kehidupan yang sesungguhnya nanti di surga. Dengan prinsip ini kita menantang zaman secara terbuka dan terang-terangan.

_COMMENTS


Arsip : • 2017201620152012